Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap orang siapa pun dia, pasti ingin hidup yang kekal. Namun, untuk memperoleh hidup yang kekal, memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi. Jika kita memenuhi syarat yang ditetapkan Yesus, maka kita akan memperoleh hidup yang kekal, sekali pun status kita adalah domba-Nya.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 10: 22 – 30, yakni Gembala yang baik. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan: “Aku memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Ku, dan mereka pasti tidak akan binasa.” Hidup kekal bukan status, melainkan relasi yang nyata dengan Sang Gembala Agung. Ada tiga syarat yang mengikat kita kepada-Nya: Pertama: Percaya kepada-Nya.
Percaya bukan sekadar tahu Yesus ada, melainkan menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya. Iman sejati harus berbuah nyata: doa yang hidup, ibadat yang lahir dari kerinduan, dan Ekaristi yang dihidupi dalam kata dan perbuatan. Percaya tidak berhenti di Altar Gereja atau Kapela, tetapi harus mewujud dalam KASIH dan kesaksian sehari-hari. Kedua Mendengarkan Suara-Nya: Domba sejati mengenali suara Gembala. Kita mendengar-Nya lewat Kitab Suci, merenungkan firman, dan melaksanakan ajaran dan perintah-Nya. Mendengar bukan sekadar kewajiban, melainkan percakapan KASIH yang menuntun pada ketaatan: mengampuni, melayani, berdamai. Suara-Nya lembut namun tegas, selalu menuntun pada tindakan benar. Ketiga Mengikuti Sang Gembala: Percaya dan mendengar suara-Nya, harus berujung pada langkah nyata: menyangkal diri dan memikul salib. Salib Kristus adalah penderitaan demi KASIH dan kebenaran, bukan akibat kebodohan atau kesalahan sendiri. Ukurannya jelas: rela berkorban demi orang lain, memilih mengampuni daripada membenci, memberi daripada menimbun, diam daripada membalas.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, hidup kekal bukan janji yang baru dimulai setelah mati, melainkan perjalanan yang dimulai sekarang, saat kita percaya, mendengar, dan mengikuti Yesus. Ia menggenggam kita dalam tangan-Nya yang ditembus paku, dan tidak ada kuasa yang dapat merebut kita kecuali kita sendiri yang memilih menjauh. Maka, jangan bertanya, “Apakah saya sudah diselamatkan?” Lebih baik bertanya: “Apakah saya sungguh percaya dan berbuah?” “Apakah saya masih mendengar suara-Nya?” “Apakah langkah saya mengikuti jejak-Nya?” Hari ini, Sang Gembala Agung kembali berseru: “Ikutilah Aku. Aku memberimu hidup, sekarang, dan untuk selama-lamanya.”
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah iman saya sungguh berbuah nyata dalam doa, ibadat, Ekaristi, dan tindakan KASIH sehari-hari, atau masih berhenti di Altar gereja atau Kapela saja?
2. Sejauh mana saya menyediakan waktu untuk mendengarkan suara Sang Gembala melalui Sabda-Nya, dan apakah saya sungguh menaati perintah-Nya dalam kehidupan nyata?
3. Apakah saya berani menyangkal diri dan memikul salib Kristus dengan rela berkorban demi orang lain, atau justru sering menderita karena kelemahan dan kebodohan sendiri?
Selamat berefleksi 🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, Gembala yang baik, ajarilah kami untuk sungguh percaya kepada-Mu, mendengarkan suara-Mu melalui Sabda, dan mengikuti jejak-Mu dengan menyangkal diri serta memikul salib. Kuatkan kami agar iman kami berbuah dalam doa, ibadat, ekaristi, dan KASIH nyata setiap hari. Peganglah kami selalu dalam tangan-Mu, hingga kami hidup dalam kekekalan bersama-Mu. Amin.






