Murid SD di Nagekeo Terancam Putus Sekolah Karena Tunggak Biaya Rp 2,6 Juta

Syarini terancam putus sekolah karena tunggak uang sekolah / foto: ist

EXPONTT.COM, MBAY – Syarini Ela (11) murid Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al-Ikhlas Aloripit, di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam putus sekolah karena menunggak biaya pendidikan sebesar Rp.2,6 juta.

Syarini yang merupakan anak yatim. Ibunya sehari-hari bekerja sebagai juru masak di salah satu Dapur Sehat atau Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.

Penghasilan sang ibu dari menjadi juru masak di dapur MBG harus mencukupi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pendidikan Syarini dan kedua saudaranya.

Baca juga:  Sidang Perkara MTN Bank NTT Rp50 Miliar: Ahli Sebut Kesalahan Analisis Bukan Tanggung Jawab Pengambil Keputusan

Syarini merupakan anak yang rajin dan selalu menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Ia rutin masuk sekolah dan mengikuti kegiatan belajar. “Dia anak yang rajin dan tidak pernah mengeluh di sekolah,” kata salah satu guru.

Di balik keterbatasan yang dihadapi, Syarini memiliki cita-cita besar. Ia ingin menjadi anggota TNI, khususnya Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad), agar dapat membanggakan ibunya dan mengabdi kepada negara.

Baca juga:  BULOG NTT Edukasi Generasi Muda, Siswa Diajak Lihat Langsung Pengelolaan Beras

Kepala sekolah MIS Al-Ikhlas Aloripit, Mariam Woni mengakui, Syarini menunggak biaya sekolah sejak lama. “Pihak sekolah memahami kondisi keluarga, namun memang ada kewajiban administrasi yang harus diselesaikan,” ujarnya saat ditemui perwakilan Yayasan Sieben Aehren, Selasa, 22 April 2026.

Sementara itu, Mushin Goa Papu selaku perwakilan Yayasan Sieben Aehren yang peduli terhadap anak yatim menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami Syarini.

Baca juga:  Forum Pemuda NTT Bantu Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Miskin di Kupang

“Kami berharap ada perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar Syarini bisa terus melanjutkan pendidikannya,” ujarnya.

Kasus yang dialami Syarini mencerminkan masih adanya anak-anak di daerah yang menghadapi hambatan ekonomi dalam mengakses pendidikan.
Dukungan dari masyarakat dan pemangku kepentingan dinilai sangat penting agar anak-anak seperti Syarini tetap dapat bersekolah dan meraih cita-cita mereka.(***)