Keluarga Tolak Permintaan Maaf Guru SMP di Kupang yang Hukum Benturkan Kepala Siswa di Tembok 100 Kali

tangkapan layar video yang menunjukan dua siswa SMP di Kabupaten Kupang dihukum membenturkan kepala di tembok

EXPONTT.COM – Keluarga IF (15) menolak permintaan maaf CL alias C, guru penjas sekaligus Wakil Kepala Sekolah SMPN 5 Satu Atap Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, yang diduga memberi hukuman membenturkan kepala di tembok kepada siswanya.

C bersama Kepala Sekolah, Thobias Fanggi dan rekan-rekan guru lain, telah melakukan pendekatan terhadap keluarga siswa IF (15), namun upaya tersebut ditolak keluarga IF.

“Kami sudah melakukan pendekatan kekeluargaan dan meminta maaf atas sanksi yang mungkin tidak sesuai namun keluarga sudah bersikeras agar persoalan ini diselesaikan secara hukum,” ujar kepala sekolah Thobias Fanggi didampingi C saat ditemui di sekolahnya, Sabtu, 19 Februari 2022.

Baca juga: 608 Kasus Positif Covid-19, Kota Kupang Terapkan PPKM Level 2

Thobias menyebut, selain sebagai guru kelas untuk mata pelajaran olahraga, C juga berperan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan pembinaan OSIS.

Gara-gara Pinjam Buku Milik Sekolah

CL alias C membenarkan mengenai dirinya yang memberikan sanksi terhadap dua orang siswanya, yakni IF (15) dan YS (14), siswa kelas IX.

Ia menyebut, sekolah dan orang tua telah sepakat, bahwa siswa diberikan kesempatan untuk meminjam buku dari sekolah untuk dipakai saat pembelajaran dalam jarigan (daring).

Baca juga: Hilang Saat Mandi di Sungai Bersama Teman-Teman, Siswa SMP di Atambua Ditemukan Tewas

“Jika buku rusak berat dan hilang maka siswa dan orangtua wajib menggantinya,” kata C.

Namun, dua muridnya IF dan YS Imanuel tidak mengumpulkan buku pinjaman. Bahkan keduanya menghilangkan buku itu.

“Sesuai kesepakatan maka wajib diganti karena buku itu akan dipakai oleh siswa lain dan merupakan aset sekolah,” kata dia.

Maka, dia selaku Wakil Kepala Sekolah menawarkan sanksi. Ada dua sanksi yang ditawarkan yakni membenturkan kepala di meja atau di tembok.

Baca juga: Siswa SMP di Kupang Dihukum Bentur Kepala 100 Kali ke Tembok, Keluarga Lapor Polisi

“Kami beri dua pilihan. (Benturkan) di meja atau tembok dan siswanya mau (benturkan kepala) di tembok. Sanksi ini tidak ada dalam kesepakatan guru dan orang tua,” kata C.

Sepuluh kali benturkan kepala Dia pun membantah kalau siswa membenturkan kepala ke tembok hingga ratusan kali.

“Hanya 10 kali dan sanksi ini disepakati bersama (siswa dan guru),” kata dia.