♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk – Ka SMPK Frateran Ndao – Ende.
SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur? Jangan lupa untuk memberikan senyum, sapa, salam, sopan dan santun kepada sesama. Dan semoga hari mu indah dan menyenangkan!
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 19: 3 – 12, yakni Tentang Perceraian. Lagi lagi orang orang Farisi datang kepada Yesus untuk mencobai Dia, terkait perceraian. Mereka bertanya: apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja? Yesus menjawab mereka dengan mengacu pada kita suci bahwa sejak semula Allah menciptakan pria dan wanita untuk hidup menjadi satu daging dalam ikatan pernikahan yang kudus.
Oleh karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Dengan demikian, perkawinan atau pernikahan katolik sekali seumur hidup. Dan Allah yang memeteraikan pernikahan suami istri itu di depan altar-Nya yang kudus. Maka, jika ada yang cerai, berarti ia melanggar sumpahnya di depan altar Allah. Orang yang melanggar sumpah berarti dia telah berbuat dosa.
Yang menarik adalah perkataan para murid Yesus: jika demikian halnya hubungan suami dan istri, lebih baik jangan kawin. Terhadap hal ini Yesus menjawab mereka bahwa ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya; dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain; dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri, demi kerajaan Surga.
Akhirnya, baik hidup dalam pernikahan sebagai suami dan istri maupun hidup tidak kawin demi kerajaan Surga, kata kuncinya adalah SETIA dan KOMITMEN atas sumpah atau janji yang diucapkan di depan altar Tuhan. Jika tidak SETIA dan tidak KOMITMEN, maka akan membawa kepada kehancuran.
Maka, mari kita belajar untuk SETIA dan KOMITMEN dengan sumpah atau janji suci kita, bdidepan altar Tuhan. Semoga demikian !!






